Indonesian Batik : Inscribed in 2009 on the Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity

Posted in Batik news on December 1, 2009 by sumbersaribatik

The techniques, symbolism and culture surrounding hand-dyed cotton and silk garments known as Indonesian Batik permeate the lives of Indonesians from beginning to end: infants are carried in batik slings decorated with symbols designed to bring the child luck, and the dead are shrouded in funerary batik. Clothes with everyday designs are worn regularly in business and academic settings, while special varieties are incorporated into celebrations of marriage and pregnancy and into puppet theatre and other art forms. The garments even play the central role in certain rituals, such as the ceremonial casting of royal batik into a volcano. Batik is dyed by proud craftspeople who draw designs on fabric using dots and lines of hot wax, which resists vegetable and other dyes and therefore allows the artisan to colour selectively by soaking the cloth in one colour, removing the wax with boiling water and repeating if multiple colours are desired. The wide diversity of patterns reflects a variety of influences, ranging from Arabic calligraphy, European bouquets and Chinese phoenixes to Japanese cherry blossoms and Indian or Persian peacocks. Often handed down within families for generations, the craft of batik is intertwined with the cultural identity of the Indonesian people and, through the symbolic meanings of its colours and designs, expresses their creativity and spirituality.
Document

Decision 4.COM 13.44

The Committee (…) decides that [this element] satisfies the criteria for inscription on the Representative List, as follows:

* R1: Indonesian Batik has a rich symbolism related to social status, local community, nature, history and cultural heritage; provides Indonesian people with a sense of identity and continuity as an essential component of their life from birth to death; and continues to evolve without losing its traditional meaning;
* R2: Inscription on the Representative List would contribute to ensuring the visibility of intangible cultural heritage at the local, national and international levels, raising awareness about its value and motivating practitioners, in particular younger generations, to continue its practice;
* R3: Various actors such as governmental and non-governmental institutions and community-based associations have jointly carried out safeguarding measures including awareness-raising, capacity-building and educational activities, and intend to continue these efforts;
* R4: The communities concerned were widely involved in the nomination process through field research in the communities; they also participated in the file preparation team and in a series of seminars to discuss the file contents, and provided their free, prior and informed consent;
* R5: The element is inscribed on the inventory of cultural elements maintained by the Department of Culture and Tourism.

Anugerah Wirausaha Utama BNI 2009

Posted in Batik Tulis Sumbersari News, Uncategorized on July 23, 2009 by sumbersaribatik

Pemenang AWU BNI 2009 diumumkan hari ini

anugerah wirausaha mandiri 2009 : terbaik pilihan  tim juri

anugerah wirausaha mandiri 2009 : terbaik pilihan tim juri

JAKARTA: Bank BNI bersama Bisnis Indonesia Intelligence Unit (BIIU) hari ini mengumumkan pemenang Anugerah Wirausaha Utama (AWU) BNI 2009 sebagai penghargaan kepada debitur bank BUMN itu.

Sejumlah 5.700 peserta pengusaha kecil menengah (UKM) terjaring mengikuti seleksi. Pada seleksi tahap pertama berhasil lolos sebanyak 200 pengusaha, untuk selanjutnya diikutkan dalam seleksi tahap kedua yang memilih 40 pengusaha. Pada tahap ketiga terjaring 18 orang finalis, yang akan dipilih menjadi pemenang untuk enam kategori.

Keenam kategori terdiri dari BNI Wirausaha, Kredit Usaha Rakyat (KUR), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), Linkage Program, Kreatif, dan Kategori Syariah. Jumlah finalis tiap kategori terdiri dari tiga orang.

Finalis Anugerah Wirausaha Utama BNI 2009

Perusahaan P e m i l ik A l a m a t
Haganyku MF Pidada Bandung
Puri Art Sumartoyo Karanganyar
CV. Putra Putri Siswati Jombang
KUTT Suka Makmur M. Yasin Tangkas*) Pasuruan
F1 Printing Agus Supriyadi Jember
Aloha Bakery Dodik Pranoto Jember
Batik Yuke Yuliantaries Bondowoso
KBS Silver I Wayan Wastika Gianyar
Bali Alus Ni Kadek Eka Citrawati Denpasar
Immanuel Diving Resort Daniel Takaendengan Manado
Pabrik Roti Makmur Kartini Serang
CV Kresna, Bahan sepatu Kardikin Tangerang
Sate H. Simin H. Simin Jakarta
KPRI Guru Paya H.Chudri*) Payakumbuh
Kinabalu Glass Dony Alferi Padang
BASE AUR Rastika*) Indramayu
KSP TRISULA Chaeruman Majalengka
Boneka Annisa Mulyana Priangan

Sumber : Panitia AWU BNI 2009
Ket : *) Pendiri/ Pengurus

Tim Juri AWU BNI 2009 dipimpin Rofikoh Rokhim (BIIU), dengan anggota Noer Soetrisno (Mubyarto Institute), Adler Manurung (ABFI Institute Perbanas), Paulus Nurwandono (Indonesia Forum), dan Shadiq Akasya (Wakil Pemimpin Divisi Usaha Kecil BNI).

Nomini berjumlah 18 orang dari Sumbar, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Sulut, dan Jakarta. Selama 3 hari mereka diwawancarai tim juri, dan pemenangnya diumumkan Jumat [hari ini] secara live di Trans 7, ujar Rofikoh di sela-sela penjurian, kemarin.

AWU BNI 2009 bertujuan memberi penghargaan sekaligus untuk memotivasi para debitor agar terus meningkatkan kinerjanya. Mereka selanjutnya diharapkan menularkan semangatnya kepada calon debitur untuk berwirausaha.

Penilaian terhadap peserta dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif, mencakup laporan keuangan, kuesioner, dan wawancara. Pengumpulan data dilakukan pada 6-23 April 2009.

Oleh Mulia Ginting Munthe
Bisnis Indonesia

One Only Product by Batik Tulis Sumbersari

Posted in Batik Tulis Sumbersari News on May 10, 2009 by sumbersaribatik

Batik yang kami buat mengusung konsep Kontemporer, Modern dan tradisional motif. Ciri khas motif yang dibuat yaitu Motif Singkong dan Motif Tembakau, mengacu kepada daerah asal pembuatan yaitu perbatasan Jember dan Bondowoso.

Motif contoh Khas Jember:

Tembakau

Tembakau

Motif Contoh Khas Bondowoso

Singkong

Singkong

disamping Motif khas Bondowoso dan Jember, Batik Tulis Sumbersari Juga membuat dan Menciptakan Motif Batik Khas dari daerah Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Banyuwangi, Pasuruan dan Daerah lainnya.

Motif contoh khas Lumajang

Pisang

Pisang

Batik Tulis Sumbersari

Posted in Uncategorized on May 10, 2009 by sumbersaribatik

Batik Tulis Sumber Sari Sasar Kalangan Atas
By Republika Newsroom
Senin, 29 Desember 2008 pukul 08:30:00

Batik Tulis Sumber Sari Sasar Kalangan Atas

BONDOWOSO– Kerajinan batik tulis Sumber Sari, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tidak diproduksi secara massal, bahkan sasaran pembelinya pun dari kalangan menengah ke atas.

“Sasaran pembeli produk kami kalangan menengah ke atas. Harganya pun bervariasi, yakni mulai Rp250 ribu sampai Rp4 juta, tergantung jenis kain dan tingkat kesulitan desain,” kata Ifriko Desriandi, seorang desainer batik tulis Sumber Sari ketika ditemui di Bondowoso, Minggu (28/12).

Kain yang digunakan untuk membatik, lanjut alumni arsitektur Unmer Malang ini, adalah kain katun dan sutera jenis asli tenun bukan mesin (ATBM). Kain sutera ini dibeli dari Garut, Jepara, Ciamis, Serkang Sulawesi, dan Bali.

Dia mengatakan, desain batik buatan tangan dengan menggunakan pewarna alami ini hanya diperuntukan satu produk.

“Kami ingin pembeli batik tulis Sumber Sari tidak takut desainnya dipakai orang lain,” katanya.

Menurut dia, sejumlah pemerintah kabupaten (pemkab) di Jatim meminta dibuatkan batik untuk pakaian khas. Misalnya, Bondowoso, menggunakan motif tanaman singkong.

Pemkab lainnya, Jember dengan batik motif tembakau, Lumajang memilih motif pisang, Situbondo memesan batik bermotif tanaman bakau, ikan, dan kerang, sedangkan Probolinggo bermotif mangga, Gunung Bromo, dan anggur.

Namun sayangkan, kata dia, batik tulis yang mulai ada sejak 1984 ini kurang mendapat perhatian dari pemkab setempat.
Bahkan, kata Ifriko, saat pameran besar menggunakan nama batik tulis Sumber Sari Jember. Pasalnya Pemkab Jember banyak memberikan bantuan.

Untuk sementara ini, pemasaran batik tulis Sumber Sari hanya memenuhi konsumen lokal, belum diekspor.

“Ya, karena tidak bisa menghasilkan produk yang banyak dalam waktu singkat,” katanya ketika ditemui di lokasi pembuatan batik tulis Sumber Sari di selatan kota Bondowoso, jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota tape. (ant/ri)

Hello world!

Posted in Uncategorized on May 9, 2009 by sumbersaribatik

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!